Selasa, 20 Maret 2012

Fenomena Bunuh Diri

Bunuh diri sudah bukan menjadi hal yang tabu lagi disekitar lingkungan kita. Banyak orang yang lebih memilih mengakhiri hidupnya karena banyak hal, salah satunya adalah keterbatasan ekonomi, gagal dalam mencapai cita-cita, maupun depresi karena sesuatu masalah yang tidak bisa diselesaikan dan memilih bunuh diri sebagai jalan terakhirnya.


Hal ini juga pernah dibahas oleh salah satu tokoh Sosiologi dalam bukunya yang berjudul suicide theory dalam bahasa Indonesia dikenal dengan teori bunuh diri. David Émile Durkheim adalah tokoh sosiologi yang berasal dari Prancis.

Ada bebarapa unsur penting dari teori yang diungkapkan oleh Durkheim semasa hidupnya  dalam ilmu sosiologi khususnya sebagai kajian yang merujuk pada masyarakat . Ini berguna untuk menganalisis fenomena bunuh diri yang sering atau kerap terjadi dimasyarakat sekitar kita dengan berbagai motif alasan bunuh dirinya. Inti teorinya adalah sebagai berikut dalam pembahasan ilmunya.

  • Bunuh diri egoistis
Egoisme merupakan sikap seseorang yang tidak berintegrasi dengan grupnya, yaitu keluarganya, kelompoknya, rekan, kumpulan agamanya dan sebagainya. Karena ciri orang bunih diri karena egoistis biasanya sangat tertutup dengan orang lain dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya pun tidak memerlukan bantuan orang lain. Apabila terjadi masalah yang sangat rumit pada orang tersebut semakin bunuh diri. Nah dengan begitu tersudut oleh sifatnya sendiri yaitu egois maka akan melakukan bunuh diri.

  • Bunuh diri altruistik
Jika bunuh diri egoistis terjadi karena adanya tekan dari dirinya terhadap masyarakatnya maka untuk bunuh diri altruistik ini terjadi karena adanya rasa kekeluargaan atau rasa kesamaan pada grupnya dan sedimikian berintegrasi, hingga diluar itu ia tidak mempunya indentitas. Dicontohkan suku bangsa di India, dimana soeorang janda membeiarkan membakar diri bersama dengan jenazah suaminya. Ini terbukti karena bunuh diri terjadi adanya ikatan yang kuat dengan anggotanya.

Bunuh diri fatalistik
Bunuh diri fatlistik terjadi karena adanya peraturan yang ada dimasyarakat itu sangat mengikat untuk individu sehingga karena terjadinya konfik pada individu sehingga ia memutuskan untuk  bunuh diri.

  • Bunuh diri anomi
Bunuh diri yang terjadi karena adanya kekosongan norma atau bisa dikatakan tidak adanya norma-norma yang dapat dipercaya di dalam masyarakat. Bunuh diri ia lakukan karena yang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan, dan norma didalam hidupnya. Orang yang bersangkutan pada awalnya sangat memberikan motivasi dan membawa pengaruh dalm setiap tindakannya sedangkan kini sudah tidak ada yang menjadi patokan didalam invidunya sehingga adanya kebingungan untuk berprilaku. Sehingga ia  berpikir daripada hidup didunia tidak ada yang mau dicapai lagi sedangkan untuk bergerak tidak ada lagi yang akan ia pedomani lebih baik mengakhiri hidup dengan bunuh diri.Misanya seseorang dalam hidupnya tenaga dan pikirannya dicurahkan untuk kentingan kelurganya dan ketika suatu saat keluaraga tersebut mendapat musibah yang meluluh lantahkan semua harta dan benda mereka bahkan kehilangan orng-orang dicintainya sehingga harapan untuk membangun kekuatan diri tidak ada lagi, semua telah hilang sehingga orang tersebut memutuskan lebih baik bunuh diri daripada tidak ada tujuan hidup lagi.

Angka kasus bunuh diri pada kalangan anak hingga remaja di Indonesia termasuk tinggi di Asia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO, pada 2005 tercatat 50 ribu penduduk Indonesia bunuh diri setiap tahun. Dari kejadian kasus bunuh diri tersebut, ternyata kasus yang paling tinggi terjadi pada rentang usia remaja hingga dewasa muda, yakni 15-24 tahun. Dasyat bukan?Dengan melihat angka di atas rasanya ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menekan angka bunuh diri di Indonesia khususnya untuk kalangan anak remaja. Apalagi fenomena bunuh diri dikalangan remaja meningkat setiap tahunnya.
Fenomena bunuh diri sebelumnya banyak ditemukan negara-negara maju Asia lainnya, seperti Jepang, Korea, Hongkong dan Taiwan. Faktor meniru diduga menjadi penyebab meningkatnya kasus bunuh diri yang terjadi di kalangan remaja di negara-negara tersebut. Banyak di antara mereka yang menyaksikan, membaca, dan mendengar dari media massa mengenai fenomena bunuh diri pada kalangan remaja. Mereka melihat itu sebagai cara mengakhiri hidup yang mampu menarik perhatian orang.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar