Hal ini juga pernah dibahas oleh salah satu tokoh Sosiologi dalam bukunya yang berjudul suicide theory dalam bahasa Indonesia dikenal dengan teori bunuh diri. David Émile Durkheim adalah tokoh sosiologi yang berasal dari Prancis.
Ada bebarapa unsur penting dari teori
yang diungkapkan oleh Durkheim semasa hidupnya
dalam ilmu sosiologi khususnya sebagai kajian yang merujuk pada
masyarakat . Ini berguna untuk menganalisis fenomena bunuh diri yang sering
atau kerap terjadi dimasyarakat sekitar kita dengan berbagai motif alasan bunuh
dirinya. Inti teorinya adalah sebagai berikut dalam pembahasan ilmunya.
- Bunuh diri egoistis
Egoisme merupakan sikap seseorang
yang tidak berintegrasi dengan grupnya, yaitu keluarganya, kelompoknya, rekan,
kumpulan agamanya dan sebagainya. Karena ciri orang bunih diri karena egoistis
biasanya sangat tertutup dengan orang lain dan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya pun tidak memerlukan bantuan orang lain. Apabila terjadi masalah yang
sangat rumit pada orang tersebut semakin bunuh diri. Nah dengan begitu tersudut
oleh sifatnya sendiri yaitu egois maka akan melakukan bunuh diri.
- Bunuh diri altruistik
Jika bunuh diri egoistis terjadi
karena adanya tekan dari dirinya terhadap masyarakatnya maka untuk bunuh diri
altruistik ini terjadi karena adanya rasa kekeluargaan atau rasa kesamaan pada
grupnya dan sedimikian berintegrasi, hingga diluar itu ia tidak mempunya
indentitas. Dicontohkan suku bangsa di India, dimana soeorang janda membeiarkan
membakar diri bersama dengan jenazah suaminya. Ini terbukti karena bunuh diri
terjadi adanya ikatan yang kuat dengan anggotanya.
Bunuh diri
fatalistik
Bunuh diri fatlistik terjadi karena
adanya peraturan yang ada dimasyarakat itu sangat mengikat untuk individu
sehingga karena terjadinya konfik pada individu sehingga ia memutuskan
untuk bunuh diri.
- Bunuh diri anomi
Bunuh diri yang terjadi karena adanya
kekosongan norma atau bisa dikatakan tidak adanya norma-norma yang dapat
dipercaya di dalam masyarakat. Bunuh diri ia lakukan karena yang bersangkutan
kehilangan cita-cita, tujuan, dan norma didalam hidupnya. Orang yang
bersangkutan pada awalnya sangat memberikan motivasi dan membawa pengaruh dalm
setiap tindakannya sedangkan kini sudah tidak ada yang menjadi patokan didalam
invidunya sehingga adanya kebingungan untuk berprilaku. Sehingga ia berpikir daripada hidup didunia tidak ada
yang mau dicapai lagi sedangkan untuk bergerak tidak ada lagi yang akan ia
pedomani lebih baik mengakhiri hidup dengan bunuh diri.Misanya seseorang dalam
hidupnya tenaga dan pikirannya dicurahkan untuk kentingan kelurganya dan ketika
suatu saat keluaraga tersebut mendapat musibah yang meluluh lantahkan semua
harta dan benda mereka bahkan kehilangan orng-orang dicintainya sehingga
harapan untuk membangun kekuatan diri tidak ada lagi, semua telah hilang
sehingga orang tersebut memutuskan lebih baik bunuh diri daripada tidak ada
tujuan hidup lagi.
Angka kasus bunuh diri pada kalangan anak hingga
remaja di Indonesia termasuk tinggi di Asia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia
WHO, pada 2005 tercatat 50 ribu penduduk Indonesia bunuh diri setiap tahun.
Dari kejadian kasus bunuh diri tersebut, ternyata kasus yang paling tinggi
terjadi pada rentang usia remaja hingga dewasa muda, yakni 15-24 tahun. Dasyat
bukan?Dengan melihat angka di atas rasanya ada banyak hal yang bisa dilakukan
untuk menekan angka bunuh diri di Indonesia khususnya untuk kalangan anak
remaja. Apalagi fenomena bunuh diri dikalangan remaja meningkat setiap
tahunnya.
Fenomena bunuh diri sebelumnya banyak ditemukan
negara-negara maju Asia lainnya, seperti Jepang, Korea, Hongkong dan Taiwan.
Faktor meniru diduga menjadi penyebab meningkatnya kasus bunuh diri yang
terjadi di kalangan remaja di negara-negara tersebut. Banyak di antara mereka
yang menyaksikan, membaca, dan mendengar dari media massa mengenai fenomena
bunuh diri pada kalangan remaja. Mereka melihat itu sebagai cara mengakhiri
hidup yang mampu menarik perhatian orang.